cctv

salju

salju biru muda

script= src="http://agungosx.googlepages.com/saljubirumuda.js" type="text/javascript'>
var montharray=new Array("Januari","Februari","Maret","April","Mei", "Juni","Juli", "Agustus","September","Oktober","November","Desember") document.write("

"+dayarray[day]+", "+daym+" "+montharray[month]+" "+year+"

")
Blogger Widgets

Sabtu, 31 Januari 2015

Keajaiban Ular Purba Yang Masih Hidup di Madagaskar

Ternyata Binatang Purba masih ada yang hidup. Yaitu berupa Ular Buta!

Ular buta (ular purba) telah ditemukan sebagai salah satu dari beberapa spesies yang hidup sekarang di Madagaskar yang telah ada sejak pulau ini terlepas dari India sekitar 100 juta tahun lalu, menurut sebuah studi yang dipimpin oleh Blair Hedges dari Penn State University di amerika serikat dan Nicolas Vidal, dari Muséum National d’Histoire Naturelle di Paris. (Credit: Frank Glaw) ScienceDaily (31 maret 2010) — “Ular buta tidaklah cantik, ia jarang ditemukan,dan sering dikira cacing tanah,” kata Blair Hedges, professor biologi dari Penn State University.
Bagaimana Ular Purba Mampu Bertahan Hidup?
“Walau begitu, mereka memberikan sejarah evolusi yang sangat menarik.” Hedges dan Nicolas Vidal, dari Muséum National d’Histoire Naturelle in Paris, adalah wakil ketua tim yang menemukan kalau ular buta adalah salah satu dari sedikit kelompok organisme yang tinggal di Madagaskar saat ia berpisah dari India sekitar 100 juta tahun lalu dan masih hidup hingga sekarang. Hasil studi mereka diterbitkan tanggal 31 maret 2010 dalam Royal Society journal Biology Letters.
Ular buta (ular purba) memuat sekitar 260 spesies dan menjadi kelompok terbedar dari ular mirip cacing di dunia — scolecophidians. Hewan bawah tanah ini umumnya di temukan di benua selatan dan kepulauan tropis, namun ada di semua benua kecuali antartika. Mereka memiliki penglihatan yang tereduksi — dan inilah mengapa di sebut “buta” — dan mereka memakan serangga sosial seperti rayap dan semut. Karena hampir tidak ada fosil ular buta, evolusi mereka sulit dipahami. Juga, karena gaya hidup bawah tanah mereka, para ilmuan telah lama berpikir bagaimana mereka bisa menyebar dari benua ke benua.
Dalam studi ini, tim menyelidiki evolusi ular buta dengan memeriksa genetika spesies hidup. Mereka mengekstrak lima gen nukleus, yang menyandi protein, dari 96 spesies ular mirip cacing untuk membuat pola percabangan evolusi mereka dan memungkinkan tim ini memperkirakan waktu divergensi beragam silsilah ular buta dengan jam molekul. “Penemuan kami menunjukkan kalau apungan benua berpengaruh besar pada evolusi ular buta,” jelas Vidal, “karena memisahkan populasi satu dari yang lain saat benua-benua berpisah.”
Mutasi pada gen merekam sejarah ular bermata kabur ini. Penelitian genetika mengungkapkan kalau leluhur ular mirip cacing muncul di Gondwana, superbenua selatan purba. Pemisahan awal terjadi sekitar 155 juta tahun lalu saat Gondwana terpecah menjadi Gondwana timur (massa daratan Antartika, India, Madagaskar dan Australia) dan Gondwana barat (massa daratan amerika selatan dan Afrika). Penduduk Gondwana timur — ular buta — lalu berdiversi menjadi beberapa silsilah termasuk sebuah famili baru yang dinamai dalam studi ini dan hanya ditemukan di Madagaskar. Kemudian, Gondwana timur terpecah menjadi sebuah massa purba — yang disebut para peneliti “Indigaskar” (India plus Madagaskar) — dan pecahan lain memuat Australia dan Antartika. Penelitian menunjukkan kalau famili baru di Madagaskar muncul sebagai hasil dari pemecahan massa daratan Indigaskar sekitar 94 juta tahun lalu.
Isolasi panjang Madagaskar telah membawa pada evolusi banyak hewan endemik unik termasuk famili ular buta ini, beraneka ragam lemur, dan mamalia langka lainnya. Sayangnya, baik hewan maupun tanaman Madagaskar kini terancam punah karena kehilangan habitat. Kata anggota tim Miguel Vences, profesor dari Technical University of Braunschweig, Jerman dan salah seorang pejabat bidang keanekaragaman hayati di Madagaskar, “Penemuan akar purba kelompok hewan di Madagaskar memberi kita alasan lebih besar untuk melindungi habitat mereka yang semakin lenyap.”
Jika ular buta berawal dari Indigaskar, menyisakan sebuah famili hidup endemik sebagai bukti di Madagaskar, bagaimana mereka semua muncul di berbagai lokasi di dunia yang ada sekarang — Eropa, Asia, Australia, Afrika dan Amerika?
Filogeni yang dibuat oleh tim Hedges dan Vidal menunjukkan sederetan diversifikasi ular buta, keluar madagaskar, yang terjadi antara 63 hingga 59 juta tahun lalu. Periode diversifikasi terbesar ini bertepatan dengan waktu permukaan laut rendah, saat hubungan antara benua terbentuk dan persebaran hewan demikian lewat menempel pada benda-benda yang mengapung di lautan adalah mudah. Ular buta bergerak keluar Afrika lewat Eropa dan Asia — superbenua purba Laurasia di Utara — atau keluar India dan kemudian dari Asia tenggara ke Australiasekitar 28 juta tahun lalu. Karena tidak ada hubungan darat antara Asia dan Australia masa itu, ulat buta ini hanya dapat mencapai Australia dengan menyeberangi samudera hanya dengan menumpang pada benda-benda yang hanyut. Setelah itu, pemisahan silsilah ular buta mungkin terjadi karena mereka mengikuti evolusi dan tersebarnya mangsa mereka — semut dan rayap — dalam beragam daerah geografi.
Mengapung menyeberangi samudera tampaknya mekanisme yang tidak masuk akal bagi hewan bawah tanah bisa menyebar ke benua baru, namun ada kejadian kedua penyeberangan samudera oleh ular buta pada kelompok yang tersisa di Gondwana Barat : Gondwana Barat terpisah sekitar 100 juta tahun lalu, membuat Afrika dan Amerika Selatan menjadi benua yang terpisah, namun pemisahan genetik antara ular buta Afrika dan Amerika Selatan terjadi hanya pada 63 juta tahun lalu. Penemuan ini menunjukkan kalau ular buta mungkin tetap di Afrika saat Gondwana Barat membelah dan kemudian baru bergerak ke Amerika Selatan — dan kemudian ke India Barat — dengan mengapung menyeberangi Atlantik dari timur ke barat.
Perjalanan ini jarang didokumentasikan. Hanya enam atau tujuh vertebrata lainnya yang diduga melintasi Atlantik dalam arah menuju ke barat. Namun, penyeberangan akan membutuhkan waktu setidaknya enam bulan dan mungkin terlalu sulit bagi ular buta, yang memiliki kebutuhan makanan relatif kecil dan mungkin menumpang pada rakit tanaman bersama dengan mangsa serangganya.

Mimpi Dapat Direkam, Diabadikan dan Dilihat!

Pernah nggak Anda merasakan setelah mimpi indah masih ingin mengulang dan melihatnya kembali, nah selama ini kita seringkali lupa secara detil persisnya jalan cerita mimpi yang baru saja dialami setelah bangun tidur. Mimpi susah sekali diterangkan bahkan orang seringkali tidak hafal jalan ceritanya. Kebanyakan yang diingat hanya potongan-potongan mimpi saja. Tapi tak lama lagi mimpi bisa direkam. Bagaimana caranya? Ilmuwan kini tengah membuat alat perekam mimpi dan menginterpretasikan mimpi tersebut hingga tak lagi jadi misterius.
              Setiap mimpi adalah campuran dari naluri biologis, asumsi budaya dan pengalaman pribadi. Mimpi telah menjadi sesuatu yang membingungkan bagi umat manusia sejak awal peradaban hingga saat ini. Otak paling berperan dalam mimpi yang terjadi mulai dari mimpi yang rumit hingga sederhana. Untuk merekam mimpi itu, ilmuwan menurut laporan pada jurnal Nature akan fokus pada visualisasi elektronik aktivitas otak.
“Kami ingin membaca mimpi orang,” ungkap ilmuwan dari California Institute of Technology di Pasadena, Dr Moran Cerf seperti dilansir dari BBC News, Jumat (29/10/2010). Dr Cerf menjelaskan bahwa alat ini bukan diciptakan untuk mencampuri urusan orang lain, tetapi untuk memperluas pemahaman manusia tentang bagaimana dan mengapa orang bermimpi.
Selama berabad-abad, orang telah terpesona oleh mimpi dan bahkan ada yang menganggap mimpi sangat bermakna. Di Mesir kuno misalnya, mimpi dianggap pesan dari para dewa. Baru-baru ini, analisis mimpi telah digunakan oleh psikolog sebagai alat untuk memahami pikiran bawah sadar. Tetapi satu-satunya cara untuk menafsirkan mimpi tersebut adalah dengan meminta orang tersebut bangun dari tidurnya dan menceritakan apa mimpinya.
            Dr Cerf bahkan berani membuat klaim berdasarkan studi awal. Ia menunjukkan bahwa aktivitas sel-sel otak individu atau neuron, berhubungan dengan objek atau konsep tertentu. Dalam studi Nature, para peneliti hanya akan dapat mengidentifikasi gambar atau konsep yang tersimpan di database. Mereka memperoleh hasil dengan mempelajari pasien yang diimplan (ditanam) elektroda untuk memonitor dan memperlakukan kejang otak.
Sedangkan untuk menerjemahkan mimpi tersebut, telah ada upaya untuk menciptakan mesin interface sebelum mimpi diterjemahkan oleh instruksi yang dikendalikan oleh komputer atau mesin.

Selasa, 20 Januari 2015

Semut Tahu Sinyal Kematian!

Binatang Selain Burung Gagak, Yang Mengetahui Sinyal Kematian.
Ketika seekor semut mati, teman-teman yang satu sarang dengannya bisa segera mengetahuinya. Oleh karena itu, resiko penyerangan terhadap koloni semut bisa sedikit dikurangi. Namun bagaimana semut bisa tahu bahwa temannya akan mati?
Adalah suatu teori ilmiah yang menjelaskan hal ini. Semut matimelepaskan zat kimia yang dihasilkan oleh dekomposisi seperti asam lemak yang memberitahukan tanda kematian pada koloni semut lainnya.
Namun teori ini kemudian terbantahkan oleh hasil riset terbaru, Dong Hwan Choe.
“Semut bisa mengetahui temannya akan mati karena adanya mekanisme berbeda yang tersembunyi di balik necrophoresis yang menyingkirkan salah satu semut pada suatu koloni dalam satu sarang yang sama”, kata Choe seperti dikutip dari Live Science, Kamis, 7 Mei 2009.
Kematian atau zat mati. Sementara semut hidup selain memiliki zat tersebut, juga memiliki zat kimia lain yang berhubungan dengan kehidupan atau disebut dengan ‘zat hidup’.
Ketika seekor semut mati, tingkat zat hidup mereka akan berkurang atau bahkan menghilang sama sekali, sehingga yang tersisa hanyalah zat mati.
“Jadi hal ini dikarenakan semut yang mati tidak lagi mengeluarkan bau yang sama dengan semut yang hidup, bukan karena mereka mengeluarkan zat baru pada saat setelah mereka mati“, akhiri Choe.

Keajaiban Senyum : Panjang Umur, Buktikan!

Keajaiban Senyum dapat menambah panjang umur
Rahasia panjang umur ternyata bisa sesederhana merekahnya sebuah senyuman. Semakin lebar senyum dan semakin dalam lipatan di sekitar mata Anda ketika tersenyum, semakin besar pula kemungkinan Anda untuk hidup lebih lama.
Kaitan antara senyum dan umur panjang ini diungkapkan oleh peneliti dalam riset yang dimuat di jurnal Psychological Science. Temuan baru ini menambah bukti lain bahwa hidup dengan kebahagiaan dan gembira memberi pengaruh kuat bagi kualitas kesehatan dan harapan hidup.
Peneliti percaya, lebarnya senyuman dan dalamnya kerutan di sekitar mata adalah cermin positif dari hidup seseorang yang dapat diterjemahkan dalam kesehatan jangka panjang yang lebih baik.
Kesimpulan ini merupakan hasil studi terhadap foto-foto berusia tua. Para ahli dari Wayne State University, Michigan, meneliti 230 gambar pemain liga bisbol yang dicetak dengan data registrasi tahun 1952. Daftar ini memuat semua profil dan statistik pemain, seperti tanggal lahir, berat, status perkawinan, dan karier.
Para ahli lalu membuat peringkat pemain berdasarkan bentuk senyuman. Ada kelompok pemain yang tak tersenyum sama sekali, tersenyum parsial (sebagian otot di sekitar mulut saja yang aktif), serta tersenyum lebar (ditandai tawa lepas dengan gigi yang tampak, pipi yang naik, dan lipatan di sekitar mata).
Foto-foto ini lalu dibandingkan dengan usia dan harapan hidup setiap pemain. Hasil analisis menunjukkan, 184 pemain tercatat sudah meninggal. Mereka yang masuk kategori “tanpa senyum” hidup dengan usia rata-rata 72,9 tahun.
Di antara kelompok “senyum parsial’, harapan hidupnya rata-rata mencapai 75 tahun. Adapun mereka yang senyumnya paling lebar memiliki usia rata-rata 79,9 tahun atau tujuh tahun lebih panjang dari rekannya yang “jarang senyum”.
Riset juga menemukan bahwa “senyuman palsu” tidak akan memberikan manfaat yang sama karena penambahan angka harapan hidup hanya terlihat pada pemain yang memiliki senyuman asli yang dikenal dengan Duchenne smiles.
Senyuman Duchenne mengaktifkan sekelompok otot di sekitar mulut dan mata. Istilah ini dimunculkan oleh seorang ahli saraf pada abad ke-19. Senyuman ini berbeda dengan senyum palsu yang hanya melibatkan otot di sekitar mulut.
Jadi mulai saat ini, tersenyumlah dengan lepas agar Anda tetap sehat dan panjang umur!